Takut, mas. Takut nek salah....
Emang kenapa nek salah? Lak yo wajar aja to. Kan manusia.
Iya, tapi tetep takut salah. Takut bikin salah. Takut nggak sesuai ama yang dipinginin...
Apa toh? Nggak harus selalu bener kan? Kalau nggak salah kan jadi nggak belajar mana yang bener kan?
Mau bener terus po??? Nggak mau salah??? Atau nggak mau disalahin???
Bukan gitu juga...
Ya wajar to nek manusia ada salahnya... Asal nek salah ya dibenerin, nggak diulang lagi salahnya...
Udahlah...
Kedai susu…
Pertama kali kesana, -yang kemudian berlanjut ke kali kedua, ketiga, dan seterusnya-,
Ajakan makan dan ngobrol bareng dengan para pembesar mapa angkatan saya, dengan sponsor utama adalah yang tertua, sulit ditolak meski ajakannya datang ketika baru saja tiba dirumah sepulang dari kampus, yang artinya harus kembali ke daerah kampus lagi yang berjarak setengah jam perjalanan dari rumah.
Mas wisnu, mas wahju, rangga, dan saya. Formasi lama. Datang bersama mas wahju sementara mas wisnu dan rangga sudah stand by di tempat janjian bersama masing-masing segelas susu yang sudah tandas. Kata mereka sih enak. Pesan lagi masing-masing satu porsi (jadinya mas wis dan rangga minum susu dua gelas -______________-), dan mencomot nasi kucing beserta lauk pauknya.
Obrolan mulai mengalir. Ramai seperti biasa. Update info kampus. Update info hidup rekan-rekan yang lain. Tawaran perjalanan (mas wisnu dan rangga akhirnya deal ke Bromo minggu berikutnya, dan saya nggak bisa ikut, huwaaaa huwaaaa, hiks… T-T). Dan lain-lain segala rupa.
Hingga tiba pada satu pertanyaan, “Kowe sido februari iki to nga? Penelitian wis bar to brarti wingi karo Yudha?”. Pertanyaan dari Rangga. Dan, ehemmm, saya cuma senyam senyum saja. “Yooo, dongake wae, haha..”. Saya berkelit. “Lah… Piye to? Lak yo uwis kabeh to? Tinggal ngurus nilai tok to? Tetep iso lah ngejar Februari nek kuwi…”. Di seberang bangku, mas wahju menahan tawa, setengah ingin terbahak. Saya tersipu malu. Mas wisnu tertarik ingin tahu.
Ehem. Salah tinggah. Akhirnya saya mengaku juga, malu-malu. “KP-ku durung yo. Hehehehe…”. “Heh????”. Mas wisnu dan Rangga kaget. Mas wahju terbahak. Saya, nyengir saja. “KP sing ket mbiyen kae? Kan wis setahun?? Kok isoooo??”
“Hahaha, aku rung tau ngadep ibune, hehehe, ra wani…”. “Ckckckckc!” Mas wisnu geleng-geleng kepala. Mas wahju menimpali, “Halah, bukane kowe yo podo to mas, bermasalah nang KP, wkwkwkwkw”. “Ning kan dekne pinter, ra koyo aq!” Hahaha, sialan mas wisnu ngeles. “Ooalah…. Ncen bocah kenthir! Koplak!” Rangga tak kalah juga mengejek.
Hahahaha, habislah malam itu rahasia saya terbongkar. Setengah malu, setengah lega. Habis-habisan diejek.
“Koyo DJ wae kowe nga. Dekne yo telat, podo, males koyo kowe, tapi bejo banget. Karo bapak e mung diomongi ‘Mas, ini kan udah telat to? ya udah, langsung saya nilai saja. Nggak usah saya koreksi. toh nanti keluarnya tetep C.’ wkwkwkwk”. “Hah? Tenane iso ngono? Dosen e sopo emang?”. “Pak **”. “weiih.” Rangga bercerita tentang kasus seorang kakak angkatan. “Nooooh. Kowe sesuk yo koyok ngono wae nga. Ngadep. Langsung omong, ‘Bu, ini laporan saya. Tapi saya mau wisuda besok bu. Langsung dinilai saja ya bu ya. Kasih C juga nggak papa, bu’. Ngemis-ngemis kono. Hahahaha…” Mas wahju menanggapi.
Hahahaha…. Sialan lah. Saya mana berani kayak gitu….
Dan pembicaraan pun terus berlanjut. Meloncat-loncat ke berbagai topik. Berbagai cerita sekaligus ejekan. Malam yang menyenangkan.
_______________________________________________________________________________
Pembicaraan malam itu setidaknya memberi banyak semangat dan keberanian buat saya untuk menghadap dan mengurusi KP itu. Hahahaha…. Lega. Meski diejek, tidak sedikit pun rasanya sakit hati. Malah sebaliknya, bersama orang-orang tadi saya tak perlu repot menjadi superior. Salah pun wajar saja. Namanya juga manusia. Santai saja. Kebodohan itu memang terkadang perlu ada, sebagai pembelajaran, untuk kemudian jadi bahan tertawaan, guyonan, bukan beban.
Malam itu setidaknya memangkas setengah ketakutan saya untuk menghadap sang ibunda. =)
dan ternyata cerita laporan KP saya sama persis endingnya dengan cerita laporan KP mas DJ, hahaha… =b
Dari semuanya, lagi-lagi saya merasa bahwa doa ibu adalah salah satu dari segala hal.
Titipkan mimpimu pada doa ibumu… Buatlah Allah ‘terpaksa’ mengabulkannya melalui doa-doanya….
Adalah saya yang sempat berargument kepada ibu, minta tolong jangan terlalu berharap anaknya bisa diwisuda Februari ini, karena sepertinya susah susah susah sekali, *waktu itu laporan KP belum ada progress apapun sama sekali. Tapi ibu saya sedikit protes sedikit memaksa supaya harus tetap berusaha buat wisuda februari. dengan omelan khas ala ibu saya. Dan tenyata…. kelakon juga keinginan ibu saya… Padahal saya sepertinya hanya berusaha ngurus-ngurus saja, seadanya, tanpa ngoyo tapi tetap maju, huhuhuhu…
Dari semuanya saya belajar bahwa ketakutan berlebihan itu sangat menghambat, sangat sangat sangat -___________-
Padahal apapun itu nggak seserem apa yang dipikirin sebelumnya setelah dijalanin. Kekuatan negatif dari pikiran itu bener-bener ampuh ya buat menghambat jalan. Yang susah adalah memulai langkah pertama. Seperti melawan energi aktivasi. Dan energi aktivasinya pasti tinggi sekali kalau nggak ada motivasi. Butuh ada banyak tumbukan. Dorongan, dari pihak luar juga. Selanjutnya, setelah langkah pertama, reaksinya pasti mulus terjadi sampai batasan-batasannya…
Dari semuanya, saya jadi tau kalau sebenarnya saya nggak multitasking, =b
Dari semuanya, sesungguhnya, La haula wa la quata illa billahi….

Dan tiba-tiba sudah Januari. Sama seperti hari biasa, hanya saja beda kalender penanggalan. Dan saya sepertinya masih belum terbiasa…
Dan bimsalabim, tiba-tiba saya sudah berada di Pacitan. Menikmati pelarian. Impulsif seperti biasa. Keputusan tiba-tiba. Setengah kabur. Setengah balas dendam sepertinya. Januari baru. Kembali ke masa dulu, sebelum November, Desember dan lain-lainnya. Seolah tak pernah ada jeda, sebagaimana suatu itu pernah menjadi biasa.

Desember, bulan yang penuh deadline menyita, hingga tak terasa, tak sadar bahwa tiba-tiba sudah akhir tahun. Yang lain gegap gempita penuh euforia penyambutan. Saya masih setengah bingung akan ada perayaan apa.
Ehem…. Penelitian sudah selesai, teman-teman… November lewat sudah… =)
Tapi sebenarnya saya masih menyimpan satu rahasia. Kalau temen-temen pada heboh menyiapkan syarat-syarat buat yudisium max 25 Januari supaya bisa ikut wisuda Februari, ehem, saya menyiapkan saja, tapi tak terlau berharap banyak. Karena… karena… karena… walaupun penelitian bisa diusahakan selesai sebelum tanggal segitu, sebenarnya saya masih punya tanggungan satu lagi….
LAPORAN KP. *ehem
Ehem, iya… Laporan KP yang sudah dari setahun yang lalu kerja prakteknya, belum selesai. Bahkan belum pernah ngadep dosen pembimbing sama sekali semenjak kepulangan saya dari KP. Gabungan antara malas dan takut ngadep karena udah telat. Berdalih sibuk TA lalu disambung penelitian, akhirnya si laporan KP terabaikan. Padahal ya sebenernya gampang. Tinggal ngadep, revisi, trus post test. Nilai keluar. Padahal deadline laporan dari kepulangan KP ya ada 2-3 bulanan. Dan laporan itu udah dikerjakan dari jaman masih di pabrik, jadi nggak bener-bener dari nol, plus udah sempet dikoreksi pembimbing yang di pabrik, dan acc. Tapi ya begitulah kenyataannya…..
Yang tau tentang problema laporan KP ini hanya segelintir orang. Huhuhuhu, dan semuanya mengomeli-omeli saya… *ya jelas laaaaaaahhh….
Dan kronologi penyelesaian dari laporan KP ini adalah :
Senin, Selasa, 16-17 Januari 2012 : Bolak balik papasan ama ibunya di lorong tapi nggak berani nyapa. Bolak-balik ngintip ruangan ibunya dan ibunya ada di ruangannya tapi tetep nggak berani ngadep.
Rabu, 18 Januari 2012 : Ngintip ruangan ibunya dan ibunya ada di ruangannya tapi tetep nggak berani ngadep. Pas udah sore mau pulang, malah ketemu ibunya di depan toilet lagi diskusi sama angkatan bawah saya. Nguping, ibunya besok jumat sampe senin mau ke luar kota. Nah. Njuk nasibku??? Akhirnya memberanikan diri menyapa ibunya selepas sesi diskusi ibunya.
“Bu, permisi. Saya mahasiswa bimbingan KP ibu. Kalau saya mau buat janji untuk menghadap, kira-kira bisa kapan bu?” | “Anda mau berangkat KP atau selesai KP?” | “Selesai KP, bu” | “Oh ya kalau begitu laporannya serahkan dulu ke saya saja, biar saya baca-baca dulu” | “Oh, baik bu….”
Legaaaaaaa…. Setidaknya ada langkah awal akhirnya, hahaha
Kamis, 19 Januari 2012 : Menyerahkan laporan KP yang diprint langsung dari laporan KP yang dulu diserahkan ke PT. Pusri tanpa editing apa-apa lagi ke ibunya.
Jumat, 20 Januari 2012 : Beneran ibunya nggak ada seharian di ruangannya. T-T. Dapat info tambahan kalau tanggal 25 ibunya mau pergi lagi ke Thailand, duh
Sabtu, Minggu, Senin, 21-23 Januari 2012 : Libur, nggak bisa ngurus apa-apa, T-T
Selasa, 24 Januari 2012
08.00 : Pagi-pagi ngintip ruangan ibunya dan ibunya ada di ruangannya tapi tetep lagi-lagi nggak berani ngadep. Duh. Beralasan masih ngurus yang lain-lain dulu.
08.00 - 15.00 : Ngurus penelitian sampe bener-bener selesai semua hari itu. baru selesai beneran selesai jam 3 sore. Udah sore banget.
15.00 : Ngintip ruangan ibunya dan ibunya ada di ruangannya. Nah. Tapi nggak siap mental.
15.00 - 15.30 : Mutusin ke aspen. Baca selintas laporan KP lagi. Bener-bener udah lupa isinya apa, hahaha, lha udah setahun yang lalu… Berdalih dalam hati, whatever will be, will be… Kalau ini nanti selesai baca laporan, ibunya malah udah keburu pulang ya udahlah ya….. Ikhlaskan aja….
15.30 : Ngintip ruangan ibunya dan ibunya ada di ruangannya. Nah. Ya udah. Bismillah.
“Tok… tok… tok…” | “Masuk” | “Permisi bu” | “Oh, kamu, duduk sini. Wah laporan kamu belum sempat saya baca. Ini deadlinenya sampai kapan?” (ber-yaaaaaaah dalam hati sebenernya) | “Emmm, itu sebenernya deadlinenya dah lewat bu. Udah setahun yang lalu KP-nya” | “Lho lho lho… kok bisa? Kamu KP periode kapan memangnya? Bareng sama siapa ya yang periodemu yang bimbingan saya juga? Kalau udah telat kan nilainya nanti jadi C kan?” | “Saya angkatan 07 bu, periode KP-nya Februari bulan lalu. Iya bu, saya sudah tau konsekuensinya bu…”| “Ckckckckc… Pantes kok saya nggak pernah ngrasa pernah punya mahasiswa bimbingan kamu” | “Ehem, iya bu,” *ketawa malu
15.35 - 15.45 : Ada yang mengetuk pintu. Mahasiswa s2 bimbingan ibunya. Ibunya ngladeni bapaknya itu dulu. Dan dari hasil nguping, jadi tahu kalau bener ibunya besok, tanggal 25 mau pergi ke Thailand, sampai sabtu. Duh. Setengah lemes. Ya wis lah…..
15.45 - ….. : Sang ibu kembali ke hadapan.
“Kamu rencananya mau lulus kapan memangnya?” | “Ummm… Secepatnya bu. Tapi saya nggak ngejar yang wisuda februari ini bu.” | “Lho… Kenapa? Kurang apa lagi kamu memang?” | “Tinggal ini bu. Tadinya kurang ini ama penelitian, tapi tadi penelitiannya barusan beres semua bu. Tinggal ini.” | “Nah, klo tinggal ini ya udah langsung saya nilai saja, toh saya kasih nilai berapa saja nanti keluarnya nilai tetep sama kan, C kan? Masih nutut ngejar deadline yudisium buat wisuda kan kalau ini langsung saya nilai?”
Bengong. Nggak bisa ngomong. Sementara sang ibu masih bicara tentang membantu mahasiswa supaya cepat lulus, memperkuat ikatan alumni, dan hakikat tujuan dari kerja praktek, simsalabim, dalam beberapa menit kemudian saya sudah disuruh segera ke TU minta form nilai membawa laporan dan note dari ibunya supaya diperlancar oleh TU, *karena syarat minta form nilai sebenarnya laporanya harus sudah dijilid rapi, padahal punya saya masih dalam bentuk print-print-an. Menit-menit kemudian, nilai saya sudah dimasukan ke TU sebelum tutup disertai ledekan dari bu Sri dan wanti-wanti bahwa laporannya harus sudah dijilid rapi besok pagi-pagi.
Alhamdulillah…. bener-bener alhamdulillah… Setengah nggak percaya. Selesai semua ternyata. Dan besoknya bisa ngurus semua persyaratan yudisium ke TU dengan dibantu mas kelik dan pengurus TU lainnya yang lembur sampai jam 5 lewat….
Huhuhuhuhu… Desember ternyata lewat juga…
Alhamdulillah…
November bisa jadi adalah bulan yang bikin saya ‘stuck’ beberapa tahun belakangan. Semacam mau tak mau jadi terikat. Semacam mendung, tapi juga tidak kehujanan yang basah deras. Semacam penelitian di tahun akhir ini…
Penelitian saya bisa dibilang ngebut setengah tahun dari waktu yang seharusnya satu tahun. Setengah tahun awal, saya masih setia dengan TA, nananana… *fyi, saya adalah tipe orang yang sangaaaaaaaaat setia, selalu fokus ke satu hal…. =b *alaaaah, bilang aja nggak multitasking yang di-combine dengan males yang nggak ketulungaaaan -_________-
Setengah tahun itu pun dimulainya setelah dikejar-kejar ama dosen pembimbing gara2 penelitian itu ngerjain proyek beliau, dan udah dekat deadlinenya, dan saya belum mengerjakan apa-apa, dudududu… Dan mulai lah hari-hari di lab mencoba-coba yang beneran 100% coba-coba, - -a. Maen-maen menurut saya. Serampangan semuanya di coba. Katalis ini katalis itu, ditambah dosen pembimbing saya yang rasa ingin tau-nya tinggi, alhasil makin banyak jenis macam-macam yang dicoba. nananananana…. Teman-teman banyak yang nyemangatin biar sabar, hahahaha, =b. Ah, saya mah masih tahan klo baru segitu….
Setelah mencoba-coba dan tak kunjung berhasil akhirnya sang dosen luluh juga, *udah beneran kasihan kayaknya melihat saya juga pantang menyerah, hehehe… Akhirnya boleh pakai katalis yang umum aja buat diseminarin… Hasil coba-coba tapi nggak berhasil yang segambreng itu nggak kepake, berasa thomas alfa edison, hahaha… =b. Temen-temen lagi2 nyemangatin buat sabar, hahahaha…. Ah, whatever, buat saya itu ibunya bahkan udah baek banget mengingat saya penelitiannya cuma setengah dari waktu yang seharusnya *yang setengahnya disiasiakan dengan bermalas-malasan malas mulai nglab, =b
Akhirnya boleh seminar. Acc naskah hanya dalam sekali revisi, dudududu, padahal sang ibunda terkenal dengan revisinya yang berulang-ulang-ulang kali. Jadwal seminar yang terhambat sama jadwal ujian, akhirnya terselamatkan berkat “patner dalam selimut”, Yudhatama, yang memelas ke pengurus jurusan supaya dia diijinkan seminar waktu ujian dengan alasan sudah keterima kerja, dan harus mulai bekerja tanggal sekian, jadi harus sudah lulus sebelum tanggal sekian, maka dari itu harus seminar semasa ujian, karena kalau tidak akan kena denda penalti dari perusahaan sebanyak sekian ratus juta. Dan saya selanjutnya bisa ikut “nunut” jadwal seminar setelah merayu-rayu orang TU. *go mas kelik go go go…
Dan laporan penelitian yang saya ajukan ke dosen pembimbing yang sempat dianggurin nggak dikoreksi selama lima hari karena ibunya sibuk juga mempersiapkan laporan proyeknya ke dikti akhirnya lolos hanya dengan sekali revisi karena sudah mepet deadline yudisium. Duuuuhhh… ibunya baek bangeeeeet… *mengingat rumornya sang ibu revisinya seabrek dan banyak plus harus disisipi dengan sekaleng monde… Ah, saya berhasil mematahkan gosip, hahaha… *emang dasarnya aslinya ibunya baek kok…
dan…..
beres semua seperti tiba-tiba tepat pada H-1 batas yudisium.
Dalam penanggalan ala saya, Januari baru aja datang. Baru-baru ini. Beneran baru-baru ini. Hahaha…. November saya lewat. Tiba-tiba Desember hanya dalam hitungan hari. Dan mendadak tahun baru, bulan baru. Januari. Jreng-jreng….
*opotohiki….. -______-
Sebenarnya judul postingannya yang lengkap adalah…. “renungan akhir tahun (kuliah)…. hehehe, =b
November bisa jadi adalah bulan yang bikin saya ‘stuck’ beberapa tahun belakangan. Semacam mau tak mau jadi terikat. Semacam mendung, tapi juga tidak kehujanan yang basah deras. Semacam penelitian di tahun akhir ini… hehehe… =b
Desember, bulan yang penuh deadline menyita, hingga tak terasa, tak sadar bahwa tiba-tiba sudah akhir tahun. Yang lain gegap gempita penuh euforia penyambutan. Saya masih setengah bingung akan ada perayaan apa.
Januari. Dan tiba-tiba sudah Januari. Sama seperti hari biasa, hanya saja beda kalender penanggalan. Dan saya sepertinya masih belum terbiasa, errrrrrrrrr…. -___________-
Nb : semua bulan tersebut diatas adalah bulan-bulan dalam penanggalan ala saya, analogi, bukan kalender sebenarnya, =b